“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.
Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.
Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.
(Puisi Kahlil Gibran dikutip dari: Wikimu)
Puisi itu mewakilkan perasaan seorang anak, semuanya, seluruhnya.
Anak yang dibebaskan akan mengenal dunia
Anak yang dikurung akan mengenal dunia
Dunia yang luas dan dunia yang sempit
Ibarat Melodi
Do
Re
Mi
Fa
So
La
Si
Do
Semakin dewasa seorang anak akan menaiki tangga, naik satu tingkat untuk merasakan tempat baru dan melihat dunia lebih luas.
Tetapi, tidak semua anak tumbuh menaiki tingkat kehidupannya.
Seperti Melodi 2 Nada
ia hanya menjadi penghuni anak tangga terakhir atau setidaknya naik satu tingkat, alih-alih tangga ke dua hanyalah dunia orang tuanya. Dunia fantasi orangtuanya, dunia kebangannya orangtuanya.
Bisa hanya dunia Do dan Re, atau Do dan Mi, Do dan Fa, ia akan lompat pada satu tangga. Satu saja.
Perumpaannya seperti ini;
Do adalah fase kesenangan anak, seorang manusia yang lahir tanpa dosa, tumbuh kembang, bermain, melakukan hal-hal konyol, merengek, dan lainnya. Setelah itu, seperti mobil mewah lengkap dengan supirnya. Orangtua akan menjadi supir tida karuan, supir yang tidak pernah digaji selama bertahun-tahun, kemudian memaksa masuk majikannya, dan meculiknya untuk pergi dari lingkungan mereka tinggal. Setelah berhenti, itulah satu tingkat disaat anak menemui tempat barunya. Tempat baru yang hanya orangtua merencakan, menentukan, memaksakan.
Sampai pada akhirnya, seorang anak akan menjadi Melodi 2 Nada.
A dream is your creative vision for your life in the future. You must break out of your current comfort zone and become comfortable with the unfamiliar and the unknown - Dennis Waitley
Wednesday, January 2, 2013
Tuesday, January 1, 2013
Terlalu Dini......
Ini tentang menjadi Ibu.
Ibu diantara anak-anak baru sekaligus istri dari lelaki baru, ia disebut suami.
Lalu, saat nafas baru, jiwa baru, dan nyawa baru itu muncul menghirup udara bumi untuk pertama kalinya. Seorang perempuan baru menyadari, bahwa ini terlalu dini....
Ada yang merasa sesal seumur hidup
Ada yang merasa terkena kutukan
Ada yang merasa hampir gila karena suara bayi di tengah malam
Lalu....
"Aku terlalu dini untuk meninabobokan manusia baru....yang lahir dari rahimku"
Di Sekitar...
Saya berada di lingkaran manusia-manusia baru, manusia yang masih awan untuk mengerti bagaimana hidup semestinya dan fakta. Ia adalah bayi-bayi mungil, dari rahim seorang perempuan. Tema-temanku.
Bukan waktu yang cepat untuk memahami arti si mungil hadir di tengah-tengah kita.
Hampir 7 tahun silam, pertama kalinya saya menerima kabar bahwa akan ada wajah baru di lingkungan ini.....dari rahim seorang perempuan. Kakak kelasku, sekaligus teman bermain sejak duduk di bangku SD.
Ia menjadi ibu, ibu yang terlalu dini, atau mungkin ibu dadakan?
Baru kali itu aku tahu, seorang perempuan harus menikah terlebih dahulu untuk nantinya menjadi seorang ibu dari anak-anaknya sekaligus istri dari suaminya.
Hidup bukan teori, tetapi fakta dari apa yang kita lihat, dengar, rasakan, sentuh, walaupun semua masih belum pasti. Belum pasti untuk menjadi atau menjadi salah.
Pertama kalinya, aku menyaksikan seorang gadis remaja, menggebrak pintu kamarnya hingga hancur, ia memakai baju berwarna putih seadanya, matanya sembab kehitaman, mukanya pucat penuh amarah, entah amarah itu ditujukan pada siapa, yang aku tahu dia bukan mempelai wanita tercantik saat itu.......ia mempelai wanita paling sendu yang dikelilingi awan hitam. Aku menatap perutnya, tidak membuncit. Aku belum paham saat itu. Pagi-pagi sekali, matahari hampir mewujudkan nampaknya sebagai saksi, saat semua berbisik "SAH", saat itu juga terakhir kalinya aku menatap kakak kelasku. Mereka dipisahkan, suami-istri yang bukan pasangan hidup sampai mati. Ayah yang dipisahkan dari anaknya, Ibu yang dipanggil "kakak" oleh anaknya sendiri, hingga sekarang.
Membunuh atau Malu?
Lagi-lagi, aku berhadapan dengan ibu yang terlalu dini untuk menjadi seorang ibu. Apa maksud Tuhan? selalu aku yang dihadapkan manusia-manusia dengan nasib atas kesalahan mereka sendiri.
Pertanyaan ini sedikit murka, aku hapal betul kejadian mala itu. Sekitar 4 tahun lalu. Cowo itu salah satu teman baruku. Malam hari, pesan singkat itu mampir.
"Aku pinjam uang, untuk biaya ceweku"
"Cewe kamu kenapa?sakit?"
"Bukan...."
"Butuh berapa?"
"Tinggal 200ribu, selebihnya aku sama dia udah patungan dan cari pinjaman sana-sini"
"Ada sih, tapi buat apa dulu"
"Dia hamil, sudah 4 bulan......"
"Kalian sudah pikir-pikir? ini bukan soal satu nyawa tapi dua, cewe kamu juga"
"Kita udah sepakat, perutnya makin besar Yan, kita masih sekolah, orangtuanya Haji"
"Aku gak bisa, maaf"
"Lo gak pernah tau posisi kita, semua orang gak akan tau perasaan kita, gue cuma butuh 200 ribu!"
"Maaf...."
"Mau nasehatin? soal apa? aborsi? dosa? pembunuhan?"
"Kamu tahu!"
"Gue cuma butuh 200 ribu Yan, 100 juga gpp deh. Besok kita harus berangkat, lokasinya di luar kota"
Pesan itu tidak pernah aku balas. Sampai beberapa minggu kemudian, cowo itu kembali menghubungi.
"Kali ini, buat terakhir kali. Aku pinjam 200 ribu, setelah keluar, aku langsung ganti secepatnya"
"Bukan soal uang, aku gak mau ikut terlalu jauh. Ini pilihan kamu, aku sudah coba kasih jalan lain"
"INI BUKAN PEMBUNUHAN! INI SOAL RASA MALU"
Setelah itu kami lost contact untuk beberapa tahun, tidak ada kabar, tidak pernah bertemu, tidak tahu menau soal bayi mereka. Aku selalu gila kalau teringat ini. Apa aku juga menanggung dosa mereka? Apa aku ikut membunuh satu nyawa yang berhak lahir ke dunia?. Saat itu, yang aku tahu. Membunuh lebih mudah daripada menutupi rasa malu.
Menjadi ibu...
Semua perempuan rasanya akan lengkap ketika kita menikah, memeluk suami tercinta, dan bermain dengan anak-anak yang lahir dari rahim kita sendiri.
Tapi teman-temanku, punya cara lain untuk menjadi seorang ibu atau menutup dirinya menjadi seorang ibu.
Nyatanya, aku memang dikelilingi gadis-gadis yang telah menjadi ibu. Derajat yang lebih tua dari aku, tetapi usia kita tidak terlalu berbeda. Ibu terlalu dini...
Ibu diantara anak-anak baru sekaligus istri dari lelaki baru, ia disebut suami.
Lalu, saat nafas baru, jiwa baru, dan nyawa baru itu muncul menghirup udara bumi untuk pertama kalinya. Seorang perempuan baru menyadari, bahwa ini terlalu dini....
Ada yang merasa sesal seumur hidup
Ada yang merasa terkena kutukan
Ada yang merasa hampir gila karena suara bayi di tengah malam
Lalu....
"Aku terlalu dini untuk meninabobokan manusia baru....yang lahir dari rahimku"
Di Sekitar...
Saya berada di lingkaran manusia-manusia baru, manusia yang masih awan untuk mengerti bagaimana hidup semestinya dan fakta. Ia adalah bayi-bayi mungil, dari rahim seorang perempuan. Tema-temanku.
Bukan waktu yang cepat untuk memahami arti si mungil hadir di tengah-tengah kita.
Hampir 7 tahun silam, pertama kalinya saya menerima kabar bahwa akan ada wajah baru di lingkungan ini.....dari rahim seorang perempuan. Kakak kelasku, sekaligus teman bermain sejak duduk di bangku SD.
Ia menjadi ibu, ibu yang terlalu dini, atau mungkin ibu dadakan?
Baru kali itu aku tahu, seorang perempuan harus menikah terlebih dahulu untuk nantinya menjadi seorang ibu dari anak-anaknya sekaligus istri dari suaminya.
Hidup bukan teori, tetapi fakta dari apa yang kita lihat, dengar, rasakan, sentuh, walaupun semua masih belum pasti. Belum pasti untuk menjadi atau menjadi salah.
Pertama kalinya, aku menyaksikan seorang gadis remaja, menggebrak pintu kamarnya hingga hancur, ia memakai baju berwarna putih seadanya, matanya sembab kehitaman, mukanya pucat penuh amarah, entah amarah itu ditujukan pada siapa, yang aku tahu dia bukan mempelai wanita tercantik saat itu.......ia mempelai wanita paling sendu yang dikelilingi awan hitam. Aku menatap perutnya, tidak membuncit. Aku belum paham saat itu. Pagi-pagi sekali, matahari hampir mewujudkan nampaknya sebagai saksi, saat semua berbisik "SAH", saat itu juga terakhir kalinya aku menatap kakak kelasku. Mereka dipisahkan, suami-istri yang bukan pasangan hidup sampai mati. Ayah yang dipisahkan dari anaknya, Ibu yang dipanggil "kakak" oleh anaknya sendiri, hingga sekarang.
Membunuh atau Malu?
Lagi-lagi, aku berhadapan dengan ibu yang terlalu dini untuk menjadi seorang ibu. Apa maksud Tuhan? selalu aku yang dihadapkan manusia-manusia dengan nasib atas kesalahan mereka sendiri.
Pertanyaan ini sedikit murka, aku hapal betul kejadian mala itu. Sekitar 4 tahun lalu. Cowo itu salah satu teman baruku. Malam hari, pesan singkat itu mampir.
"Aku pinjam uang, untuk biaya ceweku"
"Cewe kamu kenapa?sakit?"
"Bukan...."
"Butuh berapa?"
"Tinggal 200ribu, selebihnya aku sama dia udah patungan dan cari pinjaman sana-sini"
"Ada sih, tapi buat apa dulu"
"Dia hamil, sudah 4 bulan......"
"Kalian sudah pikir-pikir? ini bukan soal satu nyawa tapi dua, cewe kamu juga"
"Kita udah sepakat, perutnya makin besar Yan, kita masih sekolah, orangtuanya Haji"
"Aku gak bisa, maaf"
"Lo gak pernah tau posisi kita, semua orang gak akan tau perasaan kita, gue cuma butuh 200 ribu!"
"Maaf...."
"Mau nasehatin? soal apa? aborsi? dosa? pembunuhan?"
"Kamu tahu!"
"Gue cuma butuh 200 ribu Yan, 100 juga gpp deh. Besok kita harus berangkat, lokasinya di luar kota"
Pesan itu tidak pernah aku balas. Sampai beberapa minggu kemudian, cowo itu kembali menghubungi.
"Kali ini, buat terakhir kali. Aku pinjam 200 ribu, setelah keluar, aku langsung ganti secepatnya"
"Bukan soal uang, aku gak mau ikut terlalu jauh. Ini pilihan kamu, aku sudah coba kasih jalan lain"
"INI BUKAN PEMBUNUHAN! INI SOAL RASA MALU"
Setelah itu kami lost contact untuk beberapa tahun, tidak ada kabar, tidak pernah bertemu, tidak tahu menau soal bayi mereka. Aku selalu gila kalau teringat ini. Apa aku juga menanggung dosa mereka? Apa aku ikut membunuh satu nyawa yang berhak lahir ke dunia?. Saat itu, yang aku tahu. Membunuh lebih mudah daripada menutupi rasa malu.
Menjadi ibu...
Semua perempuan rasanya akan lengkap ketika kita menikah, memeluk suami tercinta, dan bermain dengan anak-anak yang lahir dari rahim kita sendiri.
Tapi teman-temanku, punya cara lain untuk menjadi seorang ibu atau menutup dirinya menjadi seorang ibu.
Nyatanya, aku memang dikelilingi gadis-gadis yang telah menjadi ibu. Derajat yang lebih tua dari aku, tetapi usia kita tidak terlalu berbeda. Ibu terlalu dini...
Subscribe to:
Comments (Atom)