Friday, February 15, 2013

Kata Mereka

Ilalang diam, angin marah. Dan itu saya, kemudian kalian geram.
Apa salah tuan-tuan begitu geram?
Apa salah tuan-tuan begitu murka?
Apa salah tuan-tuan senang menyalahkan yang lain?
Apa salah tuan-tuan?

Tentu,
ada yang salah dengan kalian

Menyulut seperti api tak kenal asap
dan sekejap
mendekam seperti siput di balik rumahnya
katanya, di jiwa ini ada yang salah
katanya, di otak ini ada yang rusak
katanya, di rasa ini tak berlaku lagi
katanya, di jari ini ada yang salah menggengam
katanya, di bibir ini ada yang tak tau makna 'pisah'
katanya....

KATA MEREKA..
Siapa yang mulai tak tutup telinga
mereka berbisik namun berteriak
berkata sampai menyelundup di lapisan gendang telinga
mengacak-ngacak otak kanan-kiri, memaksa agar mengerti

KATA MEREKA..
Ada bagian dari tubuh ini yang tak pantas diterima
seujung kotoran kuku sekalipun
setitik pori-pori yang tertutup sekalipun
sehelai rambut yang tak terhitung sekalipun
dan kata mereka
dan kata mereka seterusnya
dan kata mereka seterusnya selebihnya
dan kata mereka seterusnya selebihnya begitu
dan kata mereka seterusnya selebihnya begitu terus
dan kata mereka seterusnya selebihnya begitu terus-menerus
dan kata mereka aku adalah bagian yang disebutkan
dan kata mereka aku adalah bagian yang
dan kata mereka aku adalah bagian
dan kata mereka aku adalah
dan kata mereka aku
dan kata mereka
dan kata
dan


kata mereka...




Siapa peduli, aku sudah mati.


Thursday, February 14, 2013

Warna Ambigu

Campuran kuas dan tinta tak bertuan
Menciptakan warna paling nyata
Mencieritakan warna diantara warna
Memberi celah diantara nyata dan alam bawah sadar

Warna Ambigu
Dan aku kaku.

Warna Ambigu
Dan aku kaku.

Warna Ambigu
Dan aku kaku.

Diantara tabrakan udara dan udara
Aku ditengahnya
Menutup telinga untuk mendengar suara radius paling jauh
Mengintip celah dunia untuk menerka warna dan bentuk alam sebenarnya

Warna Ambigu
Dan aku jadi batu.

Warna Ambigu
Dan dunia semu.

Warna Ambigu
Dan alam bisu.

Warna Ambigu
Dan dunia satu.

Tapi, dimana?

Sebagian Dari Semesta

Selamt datang di sebagian kecil isi semesta. Sejauh mata memandang adalah ruang tenang tak terlihat.- SH
Add caption

Perkenalkan Kami!

Kami sepasang keturunan Adam dan Hawa yang bertanggung jawab atas langkah kami yang memutari semesta. Tugas kami sederhana, adalah menjaga kata, pikiran dan nyawa. Misi kami sederhana, adalah hidup sebagai manusia yang cinta kepada sesama dan semesta. Visi kami sangat sederhana,

Kami disini.

Hanya ingin

Bercerita...

Perkenalkan kami,

- purapuramanusia

Adalah tumpukan daging yang tersusun rapi, lengkap dengan keajaiban tak terlihat. Ia bukan manusia bukan juga makhluk lainnya, Ia dunia. Karena dia dan otaknya adalah dunia tak terlihat.

- Durga

Entah manusia itu berasal dari mana, seonggok daging itu bergerak untuk diam. Diam untuk bergerak, diam untuk menjawab dan menjawab untuk berkata. Bahkan di setiap nafas yang terlintas dari ufuk barat ke tenggara, setiap nafas senyawa tuhan tercipta satu kata untuk dia.
Durga Dunia Dari Surga dan Ibu Semesta.

Itulah kami, si purapuramanusia dilihat dari pandangan Durga dan Durga dilihat dari pandangan purapuramanusia.

Disini. Semesta. Bumi. Dan Dunia...


- Raki Ahmad Aulia


#Lettersfromme

Mungkin inilah manusia yang diacak-acak oleh virus bernama RASA. Virus tanpa penawar.

Salam rasa,
Durga.


- Siti Hardiyanti

Wednesday, January 2, 2013

Melodi 2 Nada

“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.
Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.
Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.

(Puisi Kahlil Gibran dikutip dari: Wikimu)

Puisi itu mewakilkan perasaan seorang anak, semuanya, seluruhnya.
Anak yang dibebaskan akan mengenal dunia
Anak yang dikurung akan mengenal dunia
Dunia yang luas dan dunia yang sempit
Ibarat Melodi
Do
Re
Mi
Fa
So
La
Si
Do
Semakin dewasa seorang anak akan menaiki tangga, naik satu tingkat untuk merasakan tempat baru dan melihat dunia lebih luas.
Tetapi, tidak semua anak tumbuh menaiki tingkat kehidupannya.
Seperti Melodi 2 Nada
ia hanya menjadi penghuni anak tangga terakhir atau setidaknya naik satu tingkat, alih-alih tangga ke dua hanyalah dunia orang tuanya. Dunia fantasi orangtuanya, dunia kebangannya orangtuanya.
Bisa hanya dunia Do dan Re, atau Do dan Mi, Do dan Fa, ia akan lompat pada satu tangga. Satu saja.
Perumpaannya seperti ini;
Do adalah fase kesenangan anak, seorang manusia yang lahir tanpa dosa, tumbuh kembang, bermain, melakukan hal-hal konyol, merengek, dan lainnya. Setelah itu, seperti mobil mewah lengkap dengan supirnya. Orangtua akan menjadi supir tida karuan, supir yang tidak pernah digaji selama bertahun-tahun, kemudian memaksa masuk majikannya, dan meculiknya untuk pergi dari lingkungan mereka tinggal. Setelah berhenti, itulah satu tingkat disaat anak menemui tempat barunya. Tempat baru yang hanya orangtua merencakan, menentukan, memaksakan.
Sampai pada akhirnya, seorang anak akan menjadi Melodi 2 Nada.

Tuesday, January 1, 2013

Terlalu Dini......

Ini tentang menjadi Ibu.
Ibu diantara anak-anak baru sekaligus istri dari lelaki baru, ia disebut suami.
Lalu, saat nafas baru, jiwa baru, dan nyawa baru itu muncul menghirup udara bumi untuk pertama kalinya. Seorang perempuan baru menyadari, bahwa ini terlalu dini....
Ada yang merasa sesal seumur hidup
Ada yang merasa terkena kutukan
Ada yang merasa hampir gila karena suara bayi di tengah malam
Lalu....
"Aku terlalu dini untuk meninabobokan manusia baru....yang lahir dari rahimku"

Di Sekitar...
Saya berada di lingkaran manusia-manusia baru, manusia yang masih awan untuk mengerti bagaimana hidup semestinya dan fakta. Ia adalah bayi-bayi mungil, dari rahim seorang perempuan. Tema-temanku.
Bukan waktu yang cepat untuk memahami arti si mungil hadir di tengah-tengah kita.
Hampir 7 tahun silam, pertama kalinya saya menerima kabar bahwa akan ada wajah baru di lingkungan ini.....dari rahim seorang perempuan. Kakak kelasku, sekaligus teman bermain sejak duduk di bangku SD.
Ia menjadi ibu, ibu yang terlalu dini, atau mungkin ibu dadakan?
Baru kali itu aku tahu, seorang perempuan harus menikah terlebih dahulu untuk nantinya menjadi seorang ibu dari anak-anaknya sekaligus istri dari suaminya.

Hidup bukan teori, tetapi fakta dari apa yang kita lihat, dengar, rasakan, sentuh, walaupun semua masih belum pasti. Belum pasti untuk menjadi atau menjadi salah.

Pertama kalinya, aku menyaksikan seorang gadis remaja, menggebrak pintu kamarnya hingga hancur, ia memakai baju berwarna putih seadanya, matanya sembab kehitaman, mukanya pucat penuh amarah, entah amarah itu ditujukan pada siapa, yang aku tahu dia bukan mempelai wanita tercantik saat itu.......ia mempelai wanita paling sendu yang dikelilingi awan hitam. Aku menatap perutnya, tidak membuncit. Aku belum paham saat itu. Pagi-pagi sekali, matahari hampir mewujudkan nampaknya sebagai saksi, saat semua berbisik "SAH", saat itu juga terakhir kalinya aku menatap kakak kelasku. Mereka dipisahkan, suami-istri yang bukan pasangan hidup sampai mati. Ayah yang dipisahkan dari anaknya, Ibu yang dipanggil "kakak" oleh anaknya sendiri, hingga sekarang.

Membunuh atau Malu?
Lagi-lagi, aku berhadapan dengan ibu yang terlalu dini untuk menjadi seorang ibu. Apa maksud Tuhan? selalu aku yang dihadapkan manusia-manusia dengan nasib atas kesalahan mereka sendiri.
Pertanyaan ini sedikit murka, aku hapal betul kejadian mala itu. Sekitar 4 tahun lalu. Cowo itu salah satu teman baruku. Malam hari, pesan singkat itu mampir.
"Aku pinjam uang, untuk biaya ceweku"
"Cewe kamu kenapa?sakit?"
"Bukan...."
"Butuh berapa?"
"Tinggal 200ribu, selebihnya aku sama dia udah patungan dan cari pinjaman sana-sini"
"Ada sih, tapi buat apa dulu"
"Dia hamil, sudah 4 bulan......"
"Kalian sudah pikir-pikir? ini bukan soal satu nyawa tapi dua, cewe kamu juga"
"Kita udah sepakat, perutnya makin besar Yan, kita masih sekolah, orangtuanya Haji"
"Aku gak bisa, maaf"
"Lo gak pernah tau posisi kita, semua orang gak akan tau perasaan kita, gue cuma butuh 200 ribu!"
"Maaf...."
"Mau nasehatin? soal apa? aborsi? dosa? pembunuhan?"
"Kamu tahu!"
"Gue cuma butuh 200 ribu Yan, 100 juga gpp deh. Besok kita harus berangkat, lokasinya di luar kota"
Pesan itu tidak pernah aku balas. Sampai beberapa minggu kemudian, cowo itu kembali menghubungi.
"Kali ini, buat terakhir kali. Aku pinjam 200 ribu, setelah keluar, aku langsung ganti secepatnya"
"Bukan soal uang, aku gak mau ikut terlalu jauh. Ini pilihan kamu, aku sudah coba kasih jalan lain"
"INI BUKAN PEMBUNUHAN! INI SOAL RASA MALU"

Setelah itu kami lost contact untuk beberapa tahun, tidak ada kabar, tidak pernah bertemu, tidak tahu menau soal bayi mereka. Aku selalu gila kalau teringat ini. Apa aku juga menanggung dosa mereka? Apa aku ikut membunuh satu nyawa yang berhak lahir ke dunia?. Saat itu, yang aku tahu. Membunuh lebih mudah daripada menutupi rasa malu.

Menjadi ibu...
Semua perempuan rasanya akan lengkap ketika kita menikah, memeluk suami tercinta, dan bermain dengan anak-anak yang lahir dari rahim kita sendiri.
Tapi teman-temanku, punya cara lain untuk menjadi seorang ibu atau menutup dirinya menjadi seorang ibu.
Nyatanya, aku memang dikelilingi gadis-gadis yang telah menjadi ibu. Derajat yang lebih tua dari aku, tetapi usia kita tidak terlalu berbeda. Ibu terlalu dini...

Thursday, November 22, 2012

Investigasi vs Kriminal

Jurusan Jurnalistik rasanya mulai jadi virus pelan-pelan, terkadang kita baru tau kesukaan kita itu bukan benar-benar hal yang ingin kita lakukan setelah banyak terjun ke beberapa pengalaman. Yak! jurnalistik salah satunya. Enggak pernah terpikir mau jadi wartawan, dulu taunya cuma mau jadi PENULIS *tapi novel gak pernah selesai* haha :D

Lanjut!
Setelah naik-naik ke puncak gunug dan terjun dari atas bukit di dunia per-jurnalistikan, rasanya nano-nano. Beberapa liputan udah pernah dijalanin, dari pengalaman cari narasumber untuk berita soft news sampai hard news, dari yang gampang dicari sampai yang susah birokrasinya juga udah dirasain, tapi enggak ketinggalan pengalaman BUKAN JAM KERJA (wartawan) dan terkadang pengalaman tak terduga ini bisa jadi berita terhangan dan susah dilupakan.

Pengalaman pertama adalah bikin LIVE TWEET tentang maling di perumahan gue sendiri. Dan benar-benar live tweet akhirnya jadi seru sendiri, berasa wartawan online yang harus update setiap detik :D. Dari mulai warga teriak-teriak, warga mulai bawa-bawa kayu, sampai ibu-ibu ikutan bawa sapu, sampai akhirnya maling diketahui ada di atas genteng, sampai akhirnya sang maling ketangkep dan TARAA ~ sang maling adalah anak komplek sendiri. Ini pengalaman pertama di Kriminal.

Kedua, dan lagi-lagi di bidang Kriminal. Yang ini benar-benar lebih ekstreem, kali itu bukan berasa jadi wartawan yang lagi bikin berita setiap detiknya tapi jadi camera person juga walaupun cuma sekadar dari hape saja. Pengalaman ke dua ini, masih seputar permalingan dan kali ini sangat amat terang-terangan, sore hari, di perumahan sendiri. Jambret uang 20 juta!
Yak! JAMBRET UANG 20 JUTA, DUA PELAKU, TANPA PENUTUP KEPALA, DAN MEMBAWA PISTOL SERTA GOLOK. oke, ini agak ekstreem toh? :D
Live tweet kembali berlangsung mulai dari korban dicekek, korban di ambil tasnya, warga mulai datang, pelaku mengeluarkan pistol, warga mulai takut, pistol ditodong ke kepala korban, sampai akhirnya........pelaku lolos, dan polisi baru datang. Karena cuma dua orag warga yang berani bantu dan rasa penasaran serta takut, akhirnya memberanikan diri deketin tempat kejadian dengan telanjang kaki sambil megangin hape dan memvideokan tragedi pemukulan. Dan baru sadar, video terlalu banyak goyang karena saya ketakutan. Dan baru sadar juga, kalau jadi camera person dalam suatu kejadian atau peristiwa sangat amat susah.

Itu pengalaman Kriminal. Kali ini pengalaman investigasi.
Untuk beberapa hal dari sekian pengalaman meliput, INVESTIGASI paling menyenangkan.
Rasa penasaran yang dibuat itu berkala sampai akhirnya enggak tenang sendiri dan maka hasilnya adalah tingkat KEPO yang sangat mulus. Mulai dari pencarian narasumber dari ID Kaskus, nomer telpon, accout YOUTUBE semua di kepo-in. DAN BERHASIL!
karena investigasi ini masih proses, sejauh ini INVESTIGASI masih jadi nomer satu daripada KRIMINAL. :)

Akan jadi wartawan apakah saya? ....