Ujung-Ujungnya Duit!
17 oktober 2012
Sudah sore hari, sekitar pukul 16.00 wib, saya dan salah satu teman kuliah, masih di dalam metromini 75 menuju daerah Jakarta Selatan, karena di antara kami belum pernah ada yang ke daerah itu, alhasil sepanjang perjalanan kepala dan ata kami terus mengarah ke luar jendela metromini tanpa kenek ini. Saya bagian kiri, teman saya bagian kanan. Mata kami berat sekali karena ngantuk, tapi dituntut jeli, tidak mau terlewat, apalagi laju metromini 75 tanpa kenek ini hampir mirip pembalap F1.
Mau kemana saya?
Mencari satu gedung, iya, gedung di mana saya janjian dengan salah satu wartawan untuk wawancara demi tugas kuliah. Berhentilah kami, berdiri tepat di depan gedung dengan jendela, dinding, dan lainnya dominan hitam. Saya masuk, tidak terlalu ramai, dari alamat yang saya dapat, saya harus ke lantai dua, tempat wartawan itu bekerja.
"Mba, saya Yanti dari UMN udah janjian sama mba *** untuk wawancara, ada?" - saya
"Sebentar ya", ..... "Silahkan tunggu nanti **** datang ke sini" - receiptionist
5 menit...
10 menit ...
15 menit ...
20 menit....
"Yanti ya?"
"Iya mba ***? maaf ganggu ya mba"
"Yuk! masuk ruang sini aja"
Wawancara berlangsung sangat santai, awalnya...
Pertanyaan saya pun masih seputar tugas kuliah
Dipenghujung wawancara kami, saya iseng mempertanyakan mengenai keterkaitan pemilik perusahaan tempat narasumber saya bekerja dengan berita yang mereka hasilkan setiap hari.
"Kok berubah sih mba?, lebih nyeleneh, jadi terkesan ecek-ecek?"
"Masa?, tapi viewers kita bisa lebih dari 3 juta loh"
"Apa karena pergantian pemilik perusahaan?"
"Bagaimana ya...., namanya juga pemilik perusahaan kita adalah bisnisman, sangat bisnisman, mau gak mau yang dikejar ya UANG, memang beliau tidak secara eksplisit bilang harus begini dan begitu tapi disaat rapat kan kita bisa mengerti mau dia sebenarnya apa"
"Terus isi beritanya masih penting gak?"
"Ya penting sih, tetep aja, tapi setelah banyak dilihat, yang nyeleneh itu buat kita banyak uang"
"Strategi atau emang udah berubah jadi nyari uang mba?"
"Strategi!, itu namanya strategi untuk dapetin uang"
"Jadi hardnews'nya bisa berkurang dong mba?, komposisi beritanya gimana?"
"Kita sih maunya 50-50 persen ya, tapi pada kenyataannya gitu sih, yang hiburan dan entertaint yang menghasilkan uang banyak"
"Jadi bener-bener cuma uang ya mba yang dikejar?"
"Berita juga, tapi gimana caranya berita menghasilkan uang, dan terbukti, viewers kita banyak sekali"
"Oh...."
kurang lebih seperti itu percakapan saya dan narasumber
Saya kaget, memang, seringkali mendegar kata-kata "pemilik modal bisa mempengaruhi isi berita", tapi saya pikir tidak separah ini. Menyesal, kecewa, sebagai mahasiswi yang terus terang sangat menyukai dunia media ini, saya justru semakin takut, bukan pada mental, lebih pada efek informasi kepada masyarakat. Ini bukan lahan mencari berita lagi, tapi lahan mencari uang. Cerdas nyerempet licik, alibinya memberi informasi, dibalik itu mereka bermandikan uang.
No comments:
Post a Comment