Dalam satu kelas Etika dan Filsafat Komunikasi, saya
menemukan kalimat seperti ini dari sang dosen
“Pilihan hati nurani tidak pernah salah jika ada yang berbeda dengan kenyataannya, hati nurani tidak salah, melainkan jadi ilmu untuk pembanding dan menjadi tembok untuk berhati-hati”.
Kurang lebih seperti itu kalimat yang saya tangkap ketika tema kelas kali ini
membahas Etika dan Moral. Saya tidak akan membahas jauh tentang etika dan moral
itu sendiri. Yang terselipkan dari sela kelas dengan durasi tiga jam itu adalah
HATI NURANI.
Hati nurani itu berasalah dari hati dan panggilan nurani.
Suara ini biasanya muncul karena ada pertimbangan berat sehingga tidak sekadar
mengandalakan logika saja. Contohnya, ketika kita bertemu pengemis di lampu
merah, kondisinya sangat miris, kakinya buntung, bajunya lusuh, badannya renta,
seketika selalu terbesit “bagaimana kalau itu terjadi pada orangtua saya?”,
atau “bagaimana kalau saya tua nanti jadi seperti itu?”, alhasil muncullah rasa
iba, rasa ingin berbagi, rasa ingin saling membantu. Tetapi, bukan tidak
mungkin malaikat merah muncul di sisi kiri kita.
“Bukankah mereka hanya malas? bukankah mereka tidak pantas
di beri uang? Jika mereka mau berdiri dan bangkit, ia akan sama sejahteranya
seperti kamu. Jadi, biarkan ia tetap seperti itu!”, kira-kira begitu bisikan
malaikat merah.
Lalu? Apa yang diandalkan dalam posisi seperti ini? Sebagai manusia
yang berpikir dan memiliki hati, tentu pilihan terakhir jatuh pada HATI NURANI.
Di mana letak hati nurani? Dari mana asalnya? Saya pun masih bingung, apa benar
ketika saya dalam bimbang suara hati nurani itu benar-benar membisik?. Terlepas
dari itu, saya sendiri tetap percaya. Biasanya, dalam kondisi seperti ini kita akan memilih BERBAGI TIDAK AKAN MEMBUAT KITA MISKIN. Akhirnya, keluarlah uang dengan jumlah cukup dari kantong kita dan berdoa dalam hati semoga setidaknya membantu ia mengatasi perut di siang hari, hari itu.
Kemudian, kita bertemu dengan pengemis yang sama, di tempat yang sama, dan kira-kira di waktu yang sama dengan kemarin. Ada yang aneh! pengemis yang kita lihat kemarin ternyata tidak buntung kakinya, ia sedang ongkang kaki dipinggiran warung sambil merokok dan memakan beberapa roti, dengan gaya seperti "Sejauh ini hidup masih biasa-biasa aja'', maka gondoklah kita. Caci maki dalam hati, rasa menyesal bertubi-tubi. Rasanya mengingat baru kemarin kita berdoa satu kalimat untuknya, hari itu juga kita menyumpahi ia dengan sejuta kalimat.
APA HATI NURANI SALAH?
APA HATI NURANI BISA TERTIPU?
Dari cerita ini awalnya saya pikir iya, tetapi balik lagi dengan kalimat awal bahwa hati nurani tidak pernah salah, ia adalah bisikan hati yang lahir dari nurani kita sebagai manusia yang bisa berpikir panjang dengan positif. Dari situ saya sadar, hati nurani seorang manusia tidak pernah terkena virus negatif, karena manusia dilumuti dengan perasaan saat lhir di dunia ini, kemudian di beri keistemawaan yaitu hati nurani, maka atas dasar kesucian kita sejak kecil, tidak ada hati nurani yang negatif. Mari kita lanjut kisah contoh ini.
Apa hati nurani kita salah?
Tentu tidak, hati nurani selalu berbicara apa yang kita inginkan dengan penuh harap, seringkali kita membumbui perbuatan atas dasar hati nurani dengan "bismillah", maka bukan urusan kita jika yang terjadi diluar harapan. Apa yang dapat kita pelajari? ketika hati nurani yang kita pilih ternyata berbeda dengan kenyataan yang ada, maka hati nuranimu benar, dan setidaknya menjadi pelajaran bahwa tidak semua pengemis diperlakukan sama, dan keesokan hari hasil perbedaan itu menjadi pembanding kita. Terus, apa hati nurani bisa tertipu? dari cerita ini menurut saya mungkin saja bisa, bukan tidak mungkin segala sesuatu diluar kebenaran selalu benar, bahkan yang benar saja belum tentu ada benarnya.
jangan takut berbicara dengan hati nurani, terkadang di sana ada perasaanmu yang belum pernah kau ucapkan. Diam-diam ia memberimu ilmu.
No comments:
Post a Comment